JAZZ:
(terjemahan bebas dari Wikipedia-english: http://en.wikipedia.org/wiki/Jazz)

Jazz merupakan bentuk seni musik Amerika yang bermula pada awal abad 20 dikalangan komunitas Afro-Amerika di daerah Amerika bagian Selatan. Awalnya merupakan pertemuan gaya musik tradisional Afrika dan Eropa. Pengaruh gaya bermusik dari keturunan Afrika Barat sangat nyata dalam aplikasi musik Jazz, seperti not musik Jazz yang dikenal sebagai “blue note”, improvisasi, poliritmik, sinkopasi, dan not musik “swing note”.[1]

Dari awal perkembangannya sampai saat ini, sejak abad ke 19 sampai abad 21 ini, Jazz menjadi musik yang menyatu dan populer di Amerika.[2] Kata “jazz” bermula sebagai istilah derivatif bahasa slang (prokem) yang belum jelas di daerah Pantai Barat (West Coast) Amerika. Kata “jazz” pertama kali digunakan untuk merujuk pada musik di Chicago tahun 1915.

pharoahsanders1
Double bassist Reggie Workman, tenor saxophone player Pharoah Sanders, and drummer Idris Muhammad performing in 1978.

Jazz sebagai aliran musik (genre), sejak semula di awal abad 20, mempengaruhi musik yg menjadi cabang (sub genre) jazz. Antara lain Dixieland New Orleans di awal 1910 an. Kemudian gaya swing dari big band pada era 1930-1940 an. Juga musik bebop dari pertengahan 1940 an. Adanya berbagai gaya Latin jazz fusions seperti Afro-Kuba dan Brasilian jazz di era 1950-1960 an. Perpaduan jazz & rock (rock’n jazz) dari tahun 1970 sampai akhir tahun 1980. Hingga saat ini berkembangnya jenis musik seperti acid jazz, yaitu nada jazz yang dicampur ke dalam pengaruh musik funk dan hip-hop.

DEFINISI:
Jazz sulit untuk didefinisikan, mengingat rentang waktu pembentukannya yang panjang. Sejak jaman ragtime waltzes sampai era fusion abad 20 hingga acid jazz abad 21 ini.

slave_dance_to_banjo_1780s1
In the late 18th-century painting The Old Plantation, African-Americans dance to banjo and percussion.

Walaupun telah dicoba untuk mendefinisikan jazz, bahkan dari sudut pandang non musik jazz. Antara lain memakai kriteria definisi menurut sejarah musik Eropa atau musik Afrika. Pengamat/kritikus musik jazz Joachim Berendt memberikan bantahannya bahwa semua upaya tersebut tidak ada satu pun yang memuaskan.[3]

Salah satu upaya pendekatan, untuk meminimalisir problem definisi tadi, adalah menentukan istilah “jazz” secara lebih luas. Berendt mendefinisikan jazz sebagai “bentuk seni musik yang berasal dari Amerika Serikat sepanjang konfrontasi orang hitam Amerika dengan musik Eropa”. Ia berpendapat bahwa jazz berbeda dari musik Eropa, dalam hal ini musik jazz memiliki “keterkaitan khusus pada waktu pembentukannya, yang didefinisikan sebagai era swing”. “Sebuah spontanitas dan vitalitas dari musik yg dihasilkan, dimana improvisasi berperan didalamnya”; dan “kenyaringan dan tata cara menyanyi/memainkan musik (jazz) menjadi cerminan kepribadian musisi (jazz) tersebut”.[3]

jazz-music-licensing1
Jazz Poster (1)

Travis Jackson juga telah mengusulkan definisi jazz yang lebih luas dan mampu mencakup semua sub genre Jazz yg secara radikal berbeda dijamannya. Dinyatakannya bahwa musik (jazz) mencakup kualitas seperti “swinging” (mengalun), improvisasi, interaksi grup, mengembangkan ‘suara individual’, dan ‘terbuka’ untuk jenis musik yang berbeda.[4]
Krin Gabbard mengklaim bahwa “jazz adalah suatu konstruksi” atau bisa dikategorikan seperti itu, secara artifisial, masih dapat digunakan untuk definisi “beberapa jenis musik yg menyatu secara umum dari tradisi musik yang koheren (berbeda)”.

Untuk sementara waktu, jazz mungkin sulit untuk didefinisikan, “improvisasi” jelas merupakan salah satu elemen kunci. Pada mulanya, musik blues pun secara umum telah terstruktur mempunyai pola nada pengulangan apa yg disebut “call and response”. Pola umum elemen dalam African American tradisi lisan. Suatu bentuk musik daerah yang biasanya dinyanyikan orang Negro di pedesaan Amerika sambil bekerja dan merupakan pelampiasan hati (berteriak) di ladang atau perkebunan Amerika. Pada awalnya, lagu-lagu blues juga sangat improvisasional. Fitur-fitur ini menjadi landasan sifat musik jazz asli. Sementara itu, di dalam musik klasik Eropa, elemen yang diinterpretasikan, ornamen musikal dan musik pengiring kadang-kadang membatasi kebebasan vokalisnya yang harus membawakan lagu (musik) harus sesuai komposisi musik yang sudah tertulis.

Dalam jazz, bagaimanapun, pemusik yang terampil akan mengartikan nada dan irama secara individual dan memainkan lagi komposisi yang sama di lain waktu tidak persis sama. Tergantung dari ‘mood’ pemusik dan pengalaman pribadinya, interaksi dengan sesama musisi (di panggung), atau bahkan dengan penontonnya, musisi jazz atau penyanyi jazz dapat mengubah melodi nada, harmoni lagu atau suasana diwaktu itu. Musik klasik Eropa bisa dikatakan sebagai komposer medium. Jazz, bagaimanapun, sering dicirikan sebagai produk kreativitas demokrasi, interaksi dan kolaborasi, menempatkan nilai yang sama pada kontribusi dari komposer dan musisi, ‘mempertimbangkan masing-masing klaim dari komposer dan improviser’.[5]

shr0414l1
Jazz Cartoon (1)

Di New Orleans jazz dan Dixieland jazz, musisi bergantian memainkan melodi irama, sedangkan musisi lain berimprovisasi memainkan counter melody (pengiring). Pada era swing jazz, bigband yang dibentuk lebih mengandalkan pada musik yang di aransemen, yaitu aransemen yang ditulis atau dipelajari melalui memori atau pendengaran, dimana saat itu banyak musisi jazz tidak bisa membaca not musik. Individu solois akan berimprovisasi sesuai aransemen yang ada. Belakangan, dalam ‘bebop’ fokus dialihkan kembali ke arah grup musik kecil dengan aransemen minimalis. Melodi (dikenal sebagai “kepala”) ditampilkan di awal dan akhir bagian lagu namun inti dari penampilan musisi adalah rangkaian improvisasi di tengah lagu. Saat ini gaya dari jazz seperti ‘modal jazz’ (ragam jazz) telah meninggalkan cara bermusik yang secara ketat berdasarkan partitur musik progresif, namun memperkenankan musisi secara individual berimprovisasi bahkan secara bebas tetap dalam konteks skala dan ‘mode’ partitur musik.[6] Idiom pada Jazz avant-garde dan jazz bebas membolehkan, bahkan menjadi ‘sebutan’, abaikan kord atau partitur, skala musik, dan ‘rhythmic meters’.

PERDEBATAN:
Sejak dahulu sampai sekarang di komunitas musik Jazz telah terjadi perdebatan tentang definisi dan batas-batas musik “jazz.” Meskipun perubahan atau transformasi jazz oleh pengaruh-pengaruh yang baru telah sering menimbulkan kritisi awal sebagai “penurunan nilai”. Andrew Gilbert berpendapat bahwa jazz memiliki “kemampuan untuk menyerap dan mentransformasikan pengaruh-penngaruh”dari beragam gaya musik.[7]

virginia_minstrels_18431
The blackface Virginia Minstrels in 1843, featuring tambourine, fiddle, banjo and bones.

Sementara beberapa orang yang antusias terhadap tipe Jazz mempunyai pendapat yang mendekati definisi jazz tanpa menyertai analogi dengan jenis musik lain yang kadang-kadang disebut atau diketahui sebagai “jazz”.
Musisi jazz sendiri sering sungkan mendefinisikan musik yang mereka mainkan. Duke Ellington menyimpulkan musiknya itu dengan berkata, “Ini semua (jenis) musik.” Beberapa kritikus bahkan telah menyatakan bahwa musik Ellington bukan jazz karena di aransemen (dan) dibuat untuk orkestrasi. Di sisi lain, teman Duke Ellington, Earl Hines yang memainkan 20 solo lagu “versi transformatif” dari komposisi Ellington (pada Earl Hines plays Duke Ellington direkam pada 1970 an), dijelaskan oleh Ben Ratliff (kritikus jazz dari koran New York Times), yaitu “contoh yang baik dari proses jazz sesuatu di luar sana.”[8]

Musik jazz yang berorientasi komersial atau musik pop telah lama dikritisi, terakhir sejak kemunculan jenis ‘Bop’. Orang-orang yang antusias terhadap Jazz tradisional telah meninggalkan Bop, di era jazz fusion tahun 1970 an (dan banyak lagi) sebagai periode penurunan nilai komersial dari musik. Menurut Bruce Johnson, musik jazz selalu memiliki “keengganan antara jazz sebagai musik komersial dan jazz sebagai karya seni”.[4]

st-b-jazz-music1
St B Jazz Music

Gilbert mencatat bahwa konsep tentang jazz sedang berkembang, “pencapaian masa lalu” mungkin akan menjadi “….. hak khusus atas kreativitas idiosyncratic …” dan inovasi seniman (musik) saat ini. Kritisi jazz dari “Village Voice” Gary Giddins berpendapat bahwa sebagai penciptaan dan penyebaran, jazz menjadi semakin didominasi oleh sebagian besar perusahaan entertain, jazz mempunyai wajah ” … membahayakan masa depan kehormatan dan penerimaan yang tidak menarik.” David Ake memperingatkan bahwa penciptaan “norma” dalam jazz dan pembentukan “tradisi jazz” dapat menjadi sesuatu yang diluar batas , atau menjadi bentuk avant-garde jazz (itu sendiri).[4]

Notes
[1] Alyn Shipton, A New History of Jazz, 2nd. ed., Continuum, 2007, pp. 4–5
[2] Bill Kirchner, The Oxford Companion to Jazz, Oxford University Press, 2005, Chapter Two.
[3] Joachim E. Berendt. The Jazz Book: From Ragtime to Fusion and Beyond. Translated by H. and B. Bredigkeit with Dan Morgenstern. 1981. Lawrence Hill Books. Page 371
[4] In Review of The Cambridge Companion to Jazz by Peter Elsdon, FZMw (Frankfurt Journal of Musicology) No. 6, 2003
[5] Giddins 1998 70.
[6] (e.g., “So What” on the Miles Davis album Kind of Blue)
[7] In “Jazz Inc.” by Andrew Gilbert, Metro Times, December 23, 1998
[8] Ratliff 2002, 19.