Java Jazz Festival 2010 telah usai 5 bulan yang lalu. Festival Jazz terbesar didunia menurut beberapa kalangan tersebut berlangsung pada tanggal 5, 6 dan 7 Maret 2010. Tiga hari full Jakarta diguncang musik Jazz kelas dunia, walaupun para performers yang tampil tidak melulu menampilkan genre musik Jazz.
Gejala yang nampak pada pertunjukan selama 3 hari tersebut antara lain pada gairah kalangan muda. Baik sebagai performers maupun sebagai audience. Sebagai panpel maupun sebagai ticket promotion. Bisa dibayangkan jika pada hari pertama Java Jazz fest ini saja, saat akan dibuka pada sore harinya.
Antrian panjang yang membludak hingga ke tempat parkir. Terjadi sesaat sebelum pintu masuk ke arena festival dibuka di Kemayoran Expo. Banyak pasangan-pasangan muda yang menggendong bayi atau membawa kereta dorong bayinya untuk ikut menonton Java Jazz ini.
Dilain pihak, beberapa anak muda bahkan seperti membawa serta kakek atau neneknya ikut menikmati Jazz di festival ini. Untuk bule-bule jangan ditanya seberapa tua usia mereka yang hadir!
Performers dari Jazzer-Jazzer Indonesia sendiri ada yang dari pasangan muda, antara lain Aksya Syuman dan Titi Syuman yang masing-masing tampil dengan grup Jazz sendiri bahkan ikut di beberapa grup dengan genre Jazz dan waktu yang berbeda.
Apa yang dapat disimpulkan dari fenomena musik Jazz tahun 2010 di Indonesia ini? Gairah kalangan muda dalam menikmati musik Jazz! Semoga hal ini semakin membuat tenang almarhum Embong Rahardjo dan almarhum Jack Lesmana di alam sana, dimana kalangan muda musisi Jazz ini berusia jauh di bawah usia generasi Indra Lesmana bin Jack Lesmana yang saat pertama tampil berumur 9 tahun.
Kalau disimak lebih jauh tampilan dari grup-grup performers muda ini okay juga sech. Dari Jazz aliran “berat” seperti Blues, Dixieland big band, bebop mainstream; sampai dengan Fusion era tahun 80’an, rock’n jazz dan lain-lain.
Bisa jadi hal ini dipicu dengan kemunculan berbagai komunitas Jazz, dari berita dunia Jazz seperti Warta Jazz di internet. Tercatat komunitas Jazz se tanah air sebagai berikut:
Bali Jazz Forum, Batam Jazz Forum, C Two Six Surabaya, Jajan Jazz, Jakarta Jazz Society, Jazz Lover Pekalongan, Jogja Jazz Community, Kaltim Jazz Lovers, Klab Jazz Bandung, Komunitas Jazz Banten, Komunitas Jazz Chics, Komunitas Jazz Kemayoran, Makassar Jazz Society, Malang Jazz Forum (MJF), Palembang Jazz Community, Purwokerto Jazz Community, Riau Jazz Society, Semarang Jazz Community.
Tinggal pilih komunitas Jazz terdekat dengan tempat tinggal kita.
Kembali ke Java Jazz Festival, sebagai boss Java Jazz, Peter F. Gontha memang terus menerus menampung aspirasi anak muda untuk bermusik Jazz. Salut lah untuk beliau nya.
Bila ditelusuri, fenomena anak muda ini sudah ada sejak JJF pertama tahun 2006.
Duhai…anak muda, lanjutkan perjuangan mu sampai kancah global. Istilahnya, sampai dengan “world class” Jazz music.
Okay!