Ada lagi comments JK terhadap artikel dengan judul “Demokrasi Dalam Musik JAZZ”. Artikel ini dapat dilihat pada http://101jass.blogspot.com/2009/03/demokrasi-dalam-musik-jazz.html
Artikel diissued tanggal 3 April 2009, 12:58:00 PM dengan Author: Jass FM. Pada setiap alinea, kami sisipkan komentar dari Jazz Kaltim (JK). Artikel tersebut disadur sebagai berikut:

Boleh dibilang dari berbagai jenis musik, Jazz merupakan musik yang paling mementingkan keseimbangan antara penampilan individu dan keutuhan kelompok. Dibandingkan musik jenis lain yang terpola baku, musik jazz lebih menggunakan pola sebagai suatu bentuk kesepakatan kelompok yang dengan konsisten dilaksanakan secara bersama-sama. Namun kesepakatan itu bukanlah merupakan rambu-rambu yang mati, karena diantara rambu-rambu tersebut musik jazz memberi kesempatan pada tiap individu untuk mengajukan pendapat tiap pribadi. Jadilah harmoni yang menjadi ciri khas musik jazz.
JK: Memang benar, improvisasi sekaligus mengajarkan juga kedisiplinan dalam bermusik. Disiplin mengikuti partitur asli sebagai pedoman harmoni. Disiplin untuk mendukung nada-nada yang dimainkan agar tercipta improvisasi yang selaras.
Ekspresi individu ini lebih dikenal sebagai improvisasi yang merupakan bagian dari suatu komposisi jazz. Menariknya, Improvisasi ini sangat dipengaruhi oleh kondisi pemain sehingga besar kemungkinan tiap kondisi membuahkan improvisasi yang berbeda-beda. Dari waktu ke waktu merek dagang ini dipertahankan oleh tiap generasi musisi beraliran jazz. Dengan berkembangnya waktu, eksplorasi musik jazz semakin kaya.

Wayne Shorter courtesy wroyalstokesdotcom

Ambil contoh komposisi Wayne Shorter “Footprint,” pada saat Wayne memainkan saxophone-nya untuk melantunkan komposisi ini, dapat diterjemahkan berbeda oleh musisi generasi berikutnya yaitu Scott Henderson dengan gitar elektriknya.

scott henderson courtesy modernguitaristdotcom

Bukan cuma improvisasinya saja yang digarap beda oleh Scott, tetapi juga pengolahan notasi dasarnya.
JK: Improvisasi, selain mengajarkan kedisiplinan pemusik JAZZ, juga melatih kreatifitas pemusik dalam mengeksplorasi partitur “blue note” (JAZZ) menjadi harmoni yang indah dalam permainan improvisasinya.
Eksplorasi yang tidak pernah berhenti ini membuat musik jazz menjadi musik yang selalu menarik untuk disimak. Tidak benar jika ada pendapat yang mengatakan musik jazz adalah musik yang membosankan karena berkesan old fashion. Musik jazz, justru, merupakan musik yang tidak monoton dan memiliki siklus hidup yang panjang sekali. Mungkin dalam hal siklus hidup musik jazz berada pada urutan kedua setelah musik klasik. Artinya, musik jazz dapat juga dikatakan juga sebagai musik yang semi-klasik.
JK: Eksplorasi musik JAZZ ini menjadi musik modern, sekarang menjadi peran utama pemusik JAZZ di Amerika generasi yang seusia Presiden AS, Barack Obama. Semisal Wynton Marsalis (trumpetist, alumni Juliard Music School),

diana krall courtesy beirutnightlifedotcom

Diana Krall (pianist JAZZ wanita yang melancholy), atau di Indonesia yaitu

indra lesmana courtesy tembangdotcom

Indra Lesmana (putra legendaris JAZZ Indonesia, Jack Lesmana), dan lain-lain.

Seringkali jazz diartikan musik yang borjuis musik kaum the haves. Tentu pendapat ini patut ditentang. Kalau kita kembali ke akar musik jazz yang berasal dari Work Song para budak kulit hitam – yang notabene bukan kaum borjuis – perkembangannya pun tidak secara sengaja diarahkan ke musik kalangan atas. Memang pada jaman Swing, musik jazz dijadikan pengiring dansa kaum ekonomi atas, namun selanjutnya musik jazz berkembang dari klab-klab kecil di pelosok NewYork, Chicago atau New Orleans.

diana krall courtesy newdottaringadotnet

Dari klab-klab kumuh ini musik jazz semakin menguatkan bentuknya sebagai musik yang memiliki sisi hiburan sekaligus sekaligus memiliki sisi apresiasi. Sekedar meluruskan kesalahpahaman yang terjadi, musik jazz bukan musiknya kaum ekonomi atas, tetapi lebih tepat dikatakan musiknya kaum intelektual tinggi. Perlu digaris bawahi, kaum intelektual tinggi tidak sebentuk dan sebangun dengan kaum ekonomi atas. Bukannya banyak kaum intelektual yang hidup di garis ekonomi pas-pasan?
JK: Kalau di Indonesia, simaklah JAZZ sudah menjadi tradisi, semisal di Universitas Indonesia menjadi acara JAZZ Goes To Campus, juga para mahasiswa yang menjadi panpel Java Jazz Festival, Jak JAZZ, Makassar JAZZ yang baru saja berlangsung bulan November 2010 yang lalu. Termasuk, radio JAZZ satu-satunya di Indonesia, KLCBS (Karang Layung Citra Budaya Swara) Bandung yang berangkat dari idealisme sang mahasiswa saat itu, Nazar AT Noe’man. Intelektual tinggi belum tentu high class economy.

JAZZ music logo

Fenomena lain dari musik jazz adalah keterbukaannya dengan jenis musik lain. tidak ada kata haram untuk memadukan musik jazz dengan jenis musik lain. Contoh yang nyata adalah di awal tahun 1960an ketika jazz dengan mudahnya berpadu dengan musik bossanova (samba, red) asal Brazil. Atau, ketika musik Art Rock sedang menjamur di tahun 1970-an, jazz dengan luwesnya meramu jazz dan rock menjadi fusion. Rasa ingin tahu musisi jazz, relatif lebih besar dibandingkan dengan musisi dari jenis musik lain. Musik jazz dengan intens menggali musik yang mereka minati. Hal ini banyak terjadi dengan eksplorasi musik etnis, seperti etnis India, Afrika, Amerika Latin atau Asia Timur. Kemudahan musik jazz untuk berpadu dengan musik lain membuat musik jazz mengalami beberapa kali peremajaan yang membuat musik jazz tetap bertahan.
JK: Di Indonesia, lagu Begadang Rhoma Irama di JAZZ kan oleh Jopie Item Combo bersama Ireng Maulana di tahun 80’an. Lagu-lagu tembang kenangan jadul, dibuat musik JAZZ ragtime ala New Orleans oleh Ireng Maulana All Stars.
Jika disimak dengan lebih seksama kekhasan musik jazz yang disebut diatas, mungkin kita bisa menyebut musik ini menganut faham demokrasi. Coba kita perhatikan ciri-ciri berikut: kelompok yang memiliki ‘aturan-aturan’ dengan tetap mengahargai penampilan individu anggotanya, melakukan inovasi untuk mempertahankan keberadaan mereka, dihargai oleh kaum intelektual dari berbagai tingkat ekonomi dan dengan bijaksana membuka diri dari pengaruh luar. Jika ditelaah lebih jauh, jazz sebenarnya merupakan sesuatu yang lebih dari sekedar musik. Untuk mereka yang kritis, musik jazz dapat dikembangkan menjadi suatu ‘credo’, misalnya dalam hidup bermasyarakat atau pengembangan diri. Jangan pernah berhenti mengeksplorasi musik jazz. Anda akan mendapat sesuatu yang lebih dari yang anda bayangkan ketika menikmati rekaman jazz. Selamat nikmati jazz dan nikmatilah secara aktif. (WJ)

Penulis: Chico Hindarto, Pengamat musik jazz/Produser Chico & Ira Productions