diana krall courtesy beirutnightlifedotcom

Kali ini JK ingin kita beralih membahas suatu artikel di dunia maya dengan judul “JAZZ + ROCK = FUSION???” Artikel ini dapat dilihat pada http://101jass.blogspot.com/search/label/Jazz
Artikel diissued tanggal 3 April 2009, 12:37:00 PM dengan Author: Jass FM. Pada setiap alinea, kami sisipkan komentar dari Jazz Kaltim (JK) dengan font italic. Artikel tersebut disadur sebagai berikut:

Jazz, musik yang sering dianggap musik elite, susah diterima, musik milik generasi tua dan kadang cenderung exclusive karena dinikmati oleh kalangan tertentu saja sebenarnya adalah salah satu jenis musik yang selalu berkembang menyesuaikan jaman. Sejak diperkenalkan musik jazz sebelum Perang Dunia I sampai sekarang, musik jazz senantiasa berkembang mengikuti selera pemusik dan penikmatnya bahkan oleh kaum muda yang gemar musik rock-pun, musik jazz dituntut untuk berubah dan berkembang.
JK: Sebenarnya kalau disimak lebih jauh banyak kalangan non elite juga penggemar musik Jazz. Hanya karena faktor ekonomi lah mereka tidak dapat tampil atau terlihat di ajang festival, cafe, show-show musik Jazz yang harus membayar tiket masuknya saja mereka tidak mampu. Sekalinya show tersebut gratis, mereka kurang PD atau risih dengan penampilan pribadinya atau dari sisi gengsi pergaulan di tempat show tersebut. Suatu dilema bagi Jazzer kelas bawah.

billy cobham courtesy maniadbdotcom

Perkembangan dan perubahan sejarah dunia musik pada dekade tahun 60 an merupakan suatu catatan besar dalam dunia musik, pada pertengahan tahun 60 an dimana musik rock’n roll, soul dan blues mencapai klimaksnya membuat generasi muda saat itu mulai meninggalkan musik jazz, mereka para generasi muda sangat memuja musik rock dan bahkan mendewakan para musisinya. Apakah kekuasaan musik rock pada jaman itu mampu meruntuhkan semangat dan konsep bermain para musisi jazz? Ternyata tidak.

Wayne Shorter courtesy wroyalstokesdotcom

Beberapa musisi muda yang sebelumnya pernah bermain sebagai pendukung para tokoh jazz terkenal seperti saxophonist Wayne Shorter dan pianis Joe Zawinul yang mendukung Miles Davis pada album Bitches Brew membentuk group legendaris The Weather Report pada tahun 1971, juga gitaris John Mc Laughlin yang pada awal kemunculannya sempat bermain blues saat mendukung Alexis Korner dan Graham Bond, dan menjadi pendukung pada album Miles Davis In A Silent Way dan Bitches Brew, akhirnya melejit disaat membentuk groupnya sendiri Mahavishnu Orchestra bersama Billy Cobham, Jan Hammer dan Jerry Goodman.

joe zawinul courtesy bostondotcom

Para musisi muda yang bermain jazz itu mulai memainkan jenis musik baru yang disebut FUSION, suatu jenis musik jazz yang disebut bercampur rock, blues, soul, latin dan kadang dicampur etnik musik seperti ditunjukkan oleh John McLaughlin pada solo albumnya.

miles davis courtesy dailymaildotcodotuk

Andil musisi legendaris Miles Davis pada kelahiran jazz fusion amat besar, sebab dialah yang mendominasi awal kemunculan jazz fusion. Coba simak album Miles Davis Bitches Brew dan In A Silent Way atau Filles de Kilimanjaro. Kemunculan album Miles Davis pada akhir tahun 60 an tersebut dapat diterima oleh generasi muda yang sebelumnya menggemari musik rock.

John-McLaughlin_courtesy_arthurmagdotcom

Dan langkah besar Miles Davis dalam jazz fusion segera diikuti oleh jazzer muda seperti Chick Corea, Herbie Hancock, Billy Cobham, Herbie Mann serta puluhan bahkan ratusan lainnya yang memainkan jazz fusion hingga sekarang. Dalam perjalanannya musik jazz ternyata semakin digemari oleh para rocker yang sebelumnya juga pernah bermain musik blues seperti Jon Hiseman, drumer pendiri group Colosseum, Steve Morse si gitaris pendiri group Dixie Dregs, yang pernah mendukung group Kansas dan terakhir bermain di Deep Purple. Dan pada tahun 70 an bermunculan group yang memainkan jazz rock, yang bermainnya lebih keras lagi dari jazz fusion karena permainnya sudah banyak menghilangkan alat-alat musik akustik. Walaupun kadang group jazz rock yang muncul itu memainkan alat musik akustik, namun tetap terasa beda dengan yang masih murni memainkan jazz fusion. Perbedaan yang ada tentunya dengan menyimak album-album dari group atau musisi yang pernah dirilis.
JK: Dengan kata lain, saat itu, akhir tahun 60an sampai era tahun 70an, kombinasi Jazz dan rock, baik yang dimainkan oleh musisi rock, maupun oleh para Jazzer, penamaan genre albumnya terbagi 2. Kalau musisi rock memadukan Jazz dalam musiknya, maka genre albumnya bernama Rock’n Jazz. Di Indonesiakan jadi Jazz Rock. Kalau musisi Jazz memasukkan unsur rock, musiknya ber genre Fusion. Aliran Rock’n Jazz termasuk Eumir Deodato, grup Weather Report dan dari Jepang, Casiopea. Aliran Fusion termasuk Al Di Meola, Chick Corea, drummer Billy Cobham sedikit dari Lee Ritenour.
Beberapa group yang pernah dan sampai sekarang ada yang masih bertahan memainkan jazz fusion atau jazz rock tersebut diantaranya : Weather Report, Return To Forever, Mahavishnu Orchestra, Ben, Nucleus, Brand X, Back Door, colosseum, Blood, Sweat & Tears, Dixie Dregs, Fire Merchant, Mezzoforte, Spyrogyra, serta beberapa lagi lainnya yang timbul tenggelam seiring dengan kesuksesan album yang digarapnya.
Jika kita meneliti nama-nama group yang disebutkan di atas, kemudian timbul sikap tidak menyetujui beberapa nama yang tercantum karena kurang bisa diterima dengan berbagai alasan terutama yang umum dilontarkan adalah kadar musik jazz yang dimainkan oleh group tersebut meragukan. Sikap ini sangat bisa diterima dan bahkan bisa dimaklumi, karena sejak kemunculannya hingga saat ini jazz fusion maupun jazz rock masih menjadi bahan pertentangan para kritisi musik ataupun penggemar musik jazz. Sebagian besar penggemar musik jazz terutama dari jenis New Orleans Style, Chicago & New York Style, Swing, Bebop, Cool jazz, Hard bop, Jazz funk maupun Mainstream agaknya merupakan kelompok yang kurang bisa menerima permainan keras dari jenis jazz fusion ataupun jazz rock. Sebaliknya dikalangan penggemar musik rock, kehadiran jazz fusion atau jazz rock merupakan suatu “makanan baru” yang berbeda dengan yang biasa mereka dengarkan atau dimainkan. Menu baru itu bagi kalangan penggemar musik rock menjadi santapan yang tidak kalah lezatnya dengan jenis musik rock yang lain seperti hard rock, progresive rock sampai jenis terbaru seperti death metal, grunge, trash metel dan sebagainya. Dan akibat dari perbedaan pendapat tersebut, nasib dari group maupun musisi yang memainkan jazz fusion atau jazz rock menjadi tidak mementu karena sebagian kritisi, penggemar maupun editor musik jazz dengan tegas menolak kehadiran mereka dalam catatan maupun daftar koleksinya, dan sebagian lagi mencantumkan nama-nama group maupun musisinya di dalam daftar musik jazz, dari nama group yang tersebut di atas agaknya yang bisa diterima secara luas oleh kalangan penggemar musik jazz adalah Weather Report, Return To Forever dan Mahavishnu Orchestra, sedangkan yang lainnya kelihatannya masih harus terus berjuang keras agar bisa diakui sebagai group jazz seperti ketiga group yang dikomandani oleh jazzer kondang tersebut. Dan dikalangan penggemar musik rock nama-nama group tersebut tampaknya juga masih kurang populer, kecuali bagi mereka yang memang menyukai musik rock dan juga menyukai jazz fusion atau jazz rock.
JK: Sebenarnya ada beberapa musikus, entah itu rocker, maupun Jazzer, masing2 mempunyai 2 atau lebih group, dengan tujuan pemisahan genre sesuai penggemarnya masing2. Rocker tersebut punya group khusus untuk genre rock asli. Punya juga group lain khusus memainkan Rock’n Jazz. Begitu juga para Jazzer beraliran Fusion. Chick Corea misalnya, punya kelompok utk memainkan Fusion bersama Elektric Accoustic Band. Punya kelompok utk memainkan classic Jazz mainstream, baik untuk big band, maupun cukup trio Jazz performance. Chick Corea juga punya grup yang bergenre Latin Fusion termasuk memasukkan unsur Bossanova Brazilian wave.
Disadari atau tidak kehadiran jazz fusion atau jazz rock ternyata memberi nuansa tersendiri bagi musik jazz maupun rock, dan tidak aneh bila kita jumpai group rock yang jelas konsep musiknya tiba-tiba terasa lebih berbau jazz karena adanya personil jazz yang masuk bergabung seperti yang ditunjukkan oleh group progresive rock Soft Machine pada albumnya Fourth tahun 1973 hingga Soft karena masuknya bassist jazz Roy Babington, dan walauoun lebih terasa jazz daripada rock, namun tidak sampai mengubah konsep musik group Soft Machine. Sang pemusik legendaris Miles Davis bisa tersenyum bangga di alam baka, karena upayanya mengusung jazz fusion diakhir tahun 60 an ternyata memberikan sumbangan yang besar untuk kalangan penggemar musik jazz dan rock sekaligus, kerja besar membangun jazz fusion tetap dipertahankan dan bahkan semakin dikembangkan oleh para musisi muda meskipun dengan resiko tidak diakui sebagai jazzer. Dan ironisnya yang terjadi selama ini malahan banyak group maupun musisi yang belum jelas konsep musiknya justru disebut sebagai group jazz atau jazzer hanya karena memainkan nada-nada musik jazz disetiap albumnya. Kelompok atau musisi yang sering disebut jazzer tersebut contohnya, Casiopea dari Jepang, Shakatak dari Inggris dan Michael Frank yang cukup terkenal di negara kita. Menyimak perkembangan yang ada tersebut menuntut kita lebih arif dalam menyikapi jenis-jenis musik yang dimainkan oleh masing-masing musisi, dan tidak menutup kemungkinan suatu saat kita dapat memerima mereka sebagai suatu aliran yang baru dalam musik jazz.
JK: Beberapa kalangan menyebutkan musiknya Michael Frank bukan Jazz, namun Pop Ballad.

Jazz Fusion atau Jazz Rock sama seperti aliran jazz yang lain dan merupakan suatu rangkaian anak tangga menuju dunia musik jazz yang tanpa batas, dan apabila kita sudah menginjak anak tangga fusion atau jazz rock, kenapa kita tidak meneruskannya menapak ke atas menikmati anak tangga demi anak tangga yang masing-masing membawa jenis musik jazz yang perlu untuk dikenal dan dinikmati baik untuk dimainkan ataupun didengarkan! Ibarat suatu rangkaian peralatan audio canggih, jazz fusion atau jazz rock adalah conector berlapis emas murni yang menghubungkan musik jazz dengan musik rock ataupun jenis musik lainnya. Dan kalau kita sudah mengenal conectornya rasanya sia-sia kalau kita tidak memainkan peralatannya! juga sia-sia kalau kita tidak mengetahui lebih lanjut apa dan bagaimana musik jazz itu?

Ditulis oleh Yusuf Giwangkoro, pemerhati musik bertempat tinggal di Surabaya.

JK: Di Indonesia sendiri grup Krakatau pernah masuk dalam kelompok Etno Fusion. Begitu pula trio Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, dan seorang lagi gitaris Jazz Rock yang JK lupa namanya. Violist Luluk Poerwanto juga pernah memainkan Fusion bersama grup orang2 Belandanya.