Bendera Indonesia & Lambang Garuda (courtesy of http://www.dstudiobali.com/)

Lupakan nasionalisme sesaat yang timbul saat sebelum laga final leg 1 Indonesia – Malaysia kemarin. Kita bangkit lagi. Tunjukkan bahwa Indonesia bukan bangsa yang biasa-biasa saja. Rasa optimis dan spirit tetap dibangkitkan. Tidak ada kekalahan untuk kedua kalinya. Kerahkan segenap daya upaya. Kita bisa…..! Kita bisa…..! Secara teknis memang Malaysia kelasnya di bawah timnas Indonesia. Namun dalam partai final bukanlah teknis semata yang berperan. Adu strategi dengan berbagai varian nya sudah biasa ditampilkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
Layaknya maestro musikus JAZZ, mainkan “improvisasi” blue-note yang membuat lawan kalang kabut. Digoyang “swing” sedikit, berkolaborasi antar rock’n JAZZ dengan Fusion. Kalau tensi permainan mulai meningkat, sodorkan sekadar “bossanova” hingga suasana calm down…. Sapu sedikit dengan “syncope” bola lambung. Mulailah perlahan dengan “acid-JAZZ” untuk meraih puncak!
Ingatlah jaman jaya-jayanya bulu tangkis Indonesia era Rudi Hartono atau era Lim Swie King. Betapa hanya mengandalkan power semata dirasa semakin tidak cukup. Strategi efisiensi tenaga serta taktik menguras energi lawan ternyata sangat berperan. Pada jaman Thomas Cup dan Uber Cup di awal-awal Indonesia berjaya dulu, betapa di dalam timnas tersebut ikut serta Profesor psikologi olahraga Indonesia sebagai penyemangat dan motivator tim yang harus tetap terjaga optimistisnya.
Begitu pula, kita dapat belajar pada negara yang sepakbolanya sudah tumbuh subur. Ibarat kata, sudah menjadi makanan sehari-hari. Timnas nya juga langganan menjadi juara World Cup. Ambil contoh negara Jerman. Kalau ditarik ke belakang, bahkan saat negara Jerman masih belum bersatu. Betapa Jerman Barat dan Jerman Timur cukup disegani dikalangan timnas negara-negara di dunia.

sang pianist JAZZ sexy Diana Krall courtesy pastemagazinedotcom

Seperti kita ketahui bersama, sebagai negara maju, persepakbolaan Jerman sudah memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kinerja latihan para pemain bolanya. Selain mengembangkan riset dan teknologi untuk sepakbola, latihan fisik, mental psikis dan gizi para pemain apalagi sekaliber timnas yang terjun pada Piala Dunia, Jerman mengikutsertakan atau melibatkan banyak ahli-ahli atau profesor mereka di bidang olahraga, pelatihan fisik, psikiater dan psikolog, ahli gizi, juru masak khusus, termasuk ahli strategi bisnis yang dianalogikan sebagai perang dalam sepakbola.
Kembali ke timnas Indonesia yang akan bertempur di medan laga final leg 2 hari Rabu malam tanggal 29 Desember 2010 di GBK. Secara teknis semoga timnas Indonesia masih unggul. Yang terpenting di injury time ini adalah memulihkan kebangkitan semangat juang secara mental psikis. Mental juara! Untuk itu masih ada waktu untuk mengumpulkan para profesor psikologi, psikiater, termasuk para motivator ulung Indonesia seperti Mario Teguh, Tung Desem Waringin, dan lain-lain.
Marilah bersatu untuk kejayaan negeri.
Negara Indonesia!