Hari ini tepat 4 hari usai sudah hingar bingar Jakarta dilanda Jazz, yang menularkan virus persatuan dalam harmoni musik Jazz bagi dunia. Empat hari sudah, tim JAZZ KALTIM (JK) yang meliput seluruh aktifitas di Java Jazz Festival 2011, selama 3 hari berturut-turut selama JJF berlangsung, berusaha menenangkan diri alias menjalani masa reses sambil beristirahat. Bisa dibayangkan, selama 3 hari berturut-turut tim JK boleh dikatakan tanpa istirahat menjalani tugas peliputan Java Jazz Festival 2011 yang fenomenal ini.
Masih banyak hal dibalik layar yang tersisa untuk diberitakan. Dari batalnya Presiden SBY secara mendadak, tidak jadi ikut menanam pohon “We Do Green.” Termasuk batalnya SBY berkunjung ke acara Java Jazz Festival di hari pertama, walaupun sebelumnya melalui jubir kepresidenan sudah diumumkan rencana kedatangan Presiden di malam pertama penyelenggaraan festival Jazz terbesar di dunia tersebut. Padahal sebelumnya juga diberitakan, kegiatan acara penanaman pohon oleh SBY di Jumat pagi, yang maunya sebagai aktualisasi program kepedulian lingkungan panpel Java Jazz (Java Festival Production/JFP), termasuk artis lokal dan luar negeri pendukung JJJF. “Pada kesempatan edisi ke 7 JJF ini, kami (JFP) bekerjasama dengan Pemda DKI, PT Bank Negara Indonesia, PT Jaya Ancol dan Yayasan Bumi Kita mengadakan acara penanaman pohon dengan sejumlah artis penampil festival tersebut,” ujar Peter Gontha sebagai founder dan chairman JJF. Diharapkan partisipasi para musisi tersebut dapat menjadi katalis penyemangat tambahan bagi bangsa Indonesia untuk lebih menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya. Diharapakn Presiden dan beberapa Menteri hadir juga.
Sebelumnya itu, Rabu sore, 2 Maret 2011 kemarin baru saja berlangsung acara jumpa pers JJF di Timor Room Hotel Borobudur, Jakarta. Acara tersebut dihadiri oleh berbagai wartawan calon peliput JJF baik dari media cetak, elektronik, atau online dari nasional maupun mancanegara. Penjelasan diberikan langsung oleh founder JJF Peter F. Gontha, Paul Dankmeyer (direktur JFP, Java Festival Production) dan Eky Puradireja (direktur program), wakil dari Kementrian Perdagangan dan wakil dari artis luar negeri serta Indonesia.
Seperti biasa, acara dihibur dengan penampilan vibravonis dan pemain harmonika Hendrick Maurckens (USA) yang akan tampil paling awal di Java Jazz Festival 2011 ini. Sebelumnya juga tampil Rong King Big Band.
Sekarang berita kembali ke persiapan venue JJF 2011 yang menggelegar sejak Jumat 4 Maret 2011 minggu yang lalu. Perlu dicatat, di JJF 2011 ada 2 pertunjukan musisi Jazz Indonesia yang bersifat “tribute” atau penghargaan bagi musisi Jazz yang telah wafat dan sangat berjasa untuk pengembangan musik di tanah air. Dengan kata lain, tribute adalah pertunjukan penghormatan atas karya-karya pemusik legendaris yang telah tiada. Sedangkan musisi asing kelas dunia yang juga mementaskan tribute adalah George Benson. Gitaris sekaligus vokalis senior Jazz berumur 67 tahun ini telah menampilkan “George Benson Tribute to Nat King Cole” yakni memainkan repertoar Nat King Cole dengan berkolaborasi bersama Magenta Orchestra (Indonesia). Pada JJF kali ini, dari musisi Indonesia adalah penghormatan pada alm. Elfa Secioria dan alm. Harry Roesli.
Para bekas murid dan teman sekelompok band Elfa Secioria telah mengadakan pertunjukan tribute di panggung TEBS Hall Sabtu 5 Maret 2011. Pertunjukan mereka mengangkat tema “Elfa Secioria and His Legacy Lives On” dengan menampilkan Elfa’s Singers berikut formasi anggotanya yang ikut sejak awal, Andien, Titi DJ, Elfa’s Jazz Youth, Elfa’s Children Choir, Hedy Yunus, dan Yovie Widyanto.
Penampilan Elfa’s Singers jadi berbeda dengan para musisi Bandung yang selama ini bernaung di Rumah Musik Harry Roesli (RMHR). Pada JJF 2011 kemarin, Indonesia NuProgressive, sebuah bentuk pementasan olahan sekelompok seniman-seniman muda yang bernaung di bawah RMHR yang di gagas oleh kedua anak seniman dan musisi besar Harry Roesli yaitu Layala Roesli dan Lahami Roesli. Dengan konsep Indonesia NuProgressive tribute to Harry Roesli, Indonesia NuProgressive menampilkan sebuah pertujukan semi opera dengan menggabungkan unsur musik dan gerak dengan mengedepankan spirit dari seorang Harry Roesli dan kenakalan-kenakalan dalam tanda kutip cara seorang Harry Roesli berkarya selama hidupnya.
Okay, JAZZ 4ever!