Kali ini Tim Liputan Jazz Kaltim (JK) melaporkan hasil peliputan pada konser grup legendaris beraliran JAZZ rock fusion Jepang minggu lalu di Gandaria City Jakarta. Namun sayang sekali karena kesalahan teknis, foto-foto hasil peliputan tidak dapat ditampilkan disini. Walaupun untuk itu tim JK berhasil mendapatkan the pics nya dari rekan2 peliput media lain.

courtesy japanesestationDOTcom

Konser ini bertajuk Casiopea 3rd Live Concert yang berarti penampilan Casiopea dari kabinet terbarunya yang ketiga kalinya. Tampil memukau luar biasa dan menghentakan dentuman JAZZ energik Skeeno Exhibition Hall di mal Gandaria City. Sementara keadaan cuaca cukup panas gerah di wilayah Jakarta Selatan pada Minggu malam 30 September 2012 itu. Gelaran ini diselenggarakan oleh Shark Communications.
Info saja bahwa Casiopea kali ini tampil yang ke 4 kalinya di Jakarta. Itupun yang terakhir pagelarannya di Jakarta sekitar 18 tahun yang lalu. Buat idola Casiopea dari generasi era 1980/90-an pasti pernah akrab dengan grup ini yang manggung pada konser dengan kronologis awal pada konser tunggal tahun 1984 di Balai Sidang Jakarta. Tahun 1991 ikutan show pada JakJazz 1991 di Ancol. Tahun 1994 di Parkir Timur Senayan ikut menggelar konsernya pada JakJazz 1994 di Jakarta.

courtesy wartajazzDOTcom

Kembali ke konser 30 September 2012 Casiopea, ternyata secara komersial mendapat sambutan cukup meriah oleh warga Indonesia, walau beberapa penonton ada juga warga asingnya. Ini terbukti dari adanya antrian pengunjung yang menuju pintu masuk utama. Telah terlihat sejak sebelum acara yang seharusnya mulai pukul 19.00 Wib, jadi meleset sekitar satu jam dari jadwal yang ada. Seruan maupun sahutan dari audiens yang silih berganti engga sabar, akhirnya ditanggapi dengan naiknya MC terus mengundang Bens Leo, seorang pakar/pengamat musik lintas generasi, untuk naik ke panggung membuka pertunjukan. “Malam ini kita akan melihat sajian musik yang ber-skill tinggi dari Casiopea,” demikian kata Mas Bens Leo.

japanesestationDOTcom

Belakangan, Bens Leo mengatakan bahwa grup band yang berdiri tahun 1976 ini, yang tampil keempat kalinya di Jakarta. Pertama kali ke Indonesia pada 1984, waktu itu memang masa keemasan Casiopea di berbagai belahan negara di dunia. Terus Casiopea tampil dua kali di gelaran JakJazz tahun 1991 dan 1994 di Jakarta.
Menurut Bens Leo, pengaruh Casiopea pada musisi Indonesia begitu kuat di era 80′-90’an. Beberapa grup band yang terinspirasi dari musik Casiopea di antaranya: Kahitna, Emerald, dan Karimata. Lagipula, Casiopea sangat menarik didengarkan musiknya karena kuat pada musik beat instrumental tanpa vokal, namun tetap bisa dinamis dan energik. ”Itulah kelebihan Casiopea dibandingkan band lain,”katanya.
Bens juga merasa takjub dengan penonton yang datang, kebanyakan dari kalangan anak muda usia remaja. ”Begitu banyak remaja Indonesia suka dengan boyband and girlband, sekarang disuguhi musik yang membutuhkan skill sangat baik,” katanya. Memang penampilan Casiopea di Indonesia berkali2, tak terlihat mereka adalah band asal Jepang karena vokalisnya, Issei Noro, selalu berusaha bicara dengan bahasa Indonesia selain bahasa Inggris. Penampilan mereka bagai menarik magis dengan mantra yang menakjubkan, apalagi gitaris Issei Noro yang dijadikan front man, begitu merdu memainkan melodi JAZZy yang harmonis.

courtesy musicDOTokezoneDOTcom

Pecinta grup legendaris fusion JAZZ ini sempat dibuat galau, ketika Issei Noro selaku dedengkotnya menyatakan vakum tepar pada Agustus 2006. Apakah kelompok musik yang aktif sejak 1976 tersebut bakalan tepar? Kalau pun berlanjut, tak ada kepastian waktu. Secara diskografis, album studio terakhir Casiopea adalah Signal produksi Triangle Music tahun 2006 yang saat itu dibantu mantan anggota inti Akira Jimbo yang bertandem drum dengan Hiroyuki Noritake dari grup Sync DNA.
Status tidak jelas itu akhirnya mendapat titik terang lewat formasi baru Casiopea 3rd sekaligus pertanda untuk kembali meramaikan jagad JAZZ fusion yang mereka usung sedari awal. Berbeda dengan kedatangan mereka 18 tahun silam, Casiopea yang sempat mengalami 3 kali pergantian personil, kali ini hadir dengan personel baru yaitu Kiyomi Otaka. Wanita Jepang yang cantik ini yang menjadi personil baru Casiopea pada keyboard menggantikan posisi Minoru Mukaiya. Jadi, selain Issei, personilnya ialah Yoshihiro Naruse di posisi bas elektrik, pemain kibor atau organ Kiyomi Otaka serta drummer Akira Jimbo yang kali ini menjadi semacam anggota tambahan.

courtesy merdekaDOTcom and Casiopea FB – casiopeaDOTcoDOTjp

Kembali pada pagelaran ini, tak lama kemudian muncullah Issei, Akira, Yoshihiro dan Kiyomi sembari menempati posisi masing2 yang spontan disambut tepukan meriah ribuan penggemarnya. Tepat pukul 8 malam, Casiopea mengawali penampilannya dengan membawakan nomor Dazzling sebagai pengawal rangkaian pagelaran, langsung memberi tendangan energi lewat permainan bertempo cepat dan atraktif. Makin seru tatkala ditampilkan repertoar Domino Line, Eyes of the Mind dan kemudian komposisi signature Galactic Funk dengan anasir JAZZ-rock-funk beroktan tinggi pembakar spirit.

courtesy japanesestationDOTcom

Walaupun berusia lebih dari setengah abad, sang leader merangkap gitaris Issei Noro tetap tampil prima. Jentikan gitarnya lincah namun tetap presisi berhasil mencerahkan suasana. Sesekali dirinya berujar “Do you like it?” kepada audiens yang serempak menjawab “Yeah!” lalu Issei menanggapi dalam Bahasa Indonesia, “Bagus…” selorohnya.
Sebelumnya, sukses membuka penampilan dengan lagu Dazzling, Domino Line, Eyes Of The Mind, Set Sail, dan Golden Waves, Issei Noro menyapa penonton dengan bahasa Indonesia, ”Selamat malam, kami Casiopea datang dari Jepang untuk Anda. Kami cukup lama tak main di sini, kami kembali dengan anggota baru,” ucapnya. Penonton pun menyambut gembira ucapan Issei Noro dengan bertepuktangan riuh.
Setelah membawakan nomor instrumental Domino Line dan Space Road, kembali Issei Noro menyapa penggemar, ”Terima kasih, apakah kalian senang?”, ”Iya” kata penonton. ”Bagus, kami juga” timpal Noro-san seperti sudah tak asing melafalkan bahasa Indonesia.
Bukan itu saja, tiap personil Casiopea juga mantap menyuguhkan aksi solo panggungnya yang mengagumkan. Bahkan aksi sang bassist, Yoshihiro Naruse, bikin heboh saat rela turun dari panggung. Menyambangi dan mengelilingi arena para penonton hingga ke belakang sambil memainkan solo bassnya hingga membuat para penonton engga sungkan-sungkan memberikan tepuk tangan. Penampilan yang intim inilah yang membuat meriah suasana ruang Skeeno Exhibition Hall. Ulahnya itu membuahkan hujan tepuk tangan tanpa henti dan ia tampak begitu menikmatinya malahan semakin menjadi-jadi.
Begitu juga aksi solo drummer Akira Jimbo, walau usianya engga muda lagi permainannya begitu cepat dengan aksi akrobatik yang bikin penonton tercengang. Sebagai salah satu penggebuk drum terpandang di muka bumi, Akira engga mau mati gaya, turut beraksi dalam kecanggihan olah ritmik yang mengagumkan.

courtesy wartajazzDOTcom 60

Sedangkan personil terbaru Kiyomi terlihat santai saja, malam itu ia berperan penting memberi nuansa berbeda lewat bunyi kibor yang sangat jarang ditemui pada garapan Casiopea terdahulu. Rajut skala blues berkesan vintage tampak dominan di sejumlah nomor terutama Twilight Solitude, melodius dan funky banget.
Casiopea juga menampilkan komposisi barunya setelah vakum, yang berjudul Arrow of Time, lagi-lagi asyik energik namun melodius dan rada funky, pula.
Dibawakan pula nomor-nomor jagoan semisal Hoshizora, Akapacchi-ism dan seolah-olah tanpa habis2nya pada sesi dialog empat birama (trading fours) atas nomor lagu Fightman. Namun pertunjukan tak berhenti sampai di situ. Hadiah encore Asayake sebagai “lagu wajib” para Casiopean ditampilkan dengan hikmad, membuat penonton bertepuk tangan riuh lagi.
Akhirnya Casiopea 3rd Live Concert pun diselesaikan dengan lagu pamungkas mereka yang berjudul Tokimeki. Dimainkan, sebagai penanda bahwa konser benar-benar tuntas.
Kesimpulan secara keseluruhan, konser malam itu berjalan lancar. Repertoar yang disajikan cukup representatif, aksi panggung menarik pula didukung pencahayaan penuh warna. Hal ini dapat menutup kekurangan pada tata suara yang disebabkan akustik venue yang kurang kompatibel. Selebihnya, chemistry antara pemain dan audiens terjalin baik serta berkesan akrab.
Berikut repertoar Casiopea selama konser ini: Eyes of The Mind, Set Sail, Golden Waves, Domino Line, Space Road, Twilight Solitude (Issei Noro dan Akira Jimbo), Hoshi Zora, Akira Jimbo mainkan drum solo, Mid Manhattan, Akappachi Sim, Yoshihiro Naruse mainkan bas solo, Cry With Terra, Galactic Funk, Fight Man, Tokimeki.

courtesy wartajazzDOTcom

Casiopea pun memberikan kesan setelah tampil di konsernya itu, bahwa 18 tahun tidak ke Jakarta, Casiopea menyebut Jakarta telah berbeda dan berkembang. “Terakhir kami ke sini 18 tahun yang lalu. Kini Jakarta sudah menjadi kota yang baru. Jakarta sudah maju dan berkembang,” ujar gitaris Casiopea, Issei Noro, saat ditemui di Skenoo Hall, Gandaria City, Minggu (30/9) malam WIB.
Tim JK pun pulang dengan perasaan yang berkesan dan terpuaskan rasa rindu akan grup legendaris beat JAZZ fusion ini. C U Casiopea!